penjualan
Jumat, 30 Desember 2016
Hubungan filsafat dan pendidikan
Filsafat
pendidikan adalah ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan. Oleh karena itu bersifat
filosofis dengan sendirinya filsafat pendidikan ini pada hakikatnya adalah
penerapan suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan. Hubungan antara
filsafat dan ilmu pendidikan adalah suatu keharusan. Menurut ahli filsafat
Amerika yakni John Dewey menyatakan bahwa filsafat adalah teori umum dari
pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Di samping itu
memang filsafat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor
realita serta pengalaman yang banyak terdapat dalam lapangan pendidikan.
Hubungan
antara filsafat dan pendidikan tampaknya tak mungkin dapat dipisahkan, dimana
keduanya adanya korelasi yang kuat karena kajian filsafat pendidikan terpaksa
menoleh kembali kepada hakikat manusia sebagai makhluk Allah. Pertanyaan yang
mengarah kepada pemikiran filsafat pendidikan “siapa kita, di mana kita, dan ke
mana kita akan pergi dikaji dalam konteks tujuan penciptaanya”. Ketiga
pertanyaan yang sederhana itu dihubungkan dengan fungsi dan hakikat manusia
sebagai makhluk ciptaan Allah. Dan agaknya arti inilah yang mendorong para
filosof mengarahkan pandangan mereka pada konsep agama Hal ini menjadi jelas
bahwa filosof pendidikan yaitu seseorang yang menggunakan gaya filsafat dalam
pendidikan. Ia juga memiliki pandangan pendidikan yang jelas dan sejumlah
prinsip dan keyakinan yang mempunyai nilai pelaksanaan dalam bidang pendidikan.
Hakikat Empirisme Sebagai Pengenalan Pengetahuan
Menurut
aliran ini manusia itu dilahirkan putih bersih seperti kertas putih, artinya
tidak membawa potensi apa-apa. Perkembangan selanjutnya tergantung pada
pendidikan dan lingkungan. Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya
mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan
kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut
kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena
mempunyai bakat tersendiri, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung
keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan berasal dari dalam diri yang
berupa kecerdasan atau kemauan, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat
mengembangkan bakat atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya. Meskipun
demikian, penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang
memandang manusia sebagai makhluk pasif dan dapat diubah, misalnya melalui
modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific
psychologySkinner ataupun dengan behavioral. Behaviorisme itu menjadikan
perilaku manusia tampak keluar sebagai sasaran kajiannya, dengan tetap
menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar semata-mata.
Asal Usul Kota Serang
Raden
Walangsungsang dan Putri Rarasantang adalah putra putri Prabu Siliwangi, Raja
Kerajaan Pajajaran. Prabu Siliwangi beragama Buddha. la kembali ke agama
lamanya itu setelah istrinya, Nyi Mas Subanglarang (ibunda Walangsungsang dan
Rarasantang) wafat. Suatu ketika, Walangsungsang dan Rarasantang pergi menemui
Syekh Idlofi di Cirebon untuk belajar agama Islam, tanpa seizin sang ayah.
Mereka belajar agama Islam dengan tekun.
Setelah
beberapa lama, Syekh Idlofi menyuruh Walang sungsang membuka hutan di selatan
Gunung Jati untuk dijadikan sebuah pedukuhan. Walangsungsang pun melaksanakan
perintah itu. Pedukuhan itu kemudian diberi nama Tegal Alang¬alang dan
Walangsungsang dijadikan sebagai pemimpin pedukuhan itu dengan gelar Pangeran
Cakrabuana. Pada suatu hari Syekh Idlofi memerintahkan Pangeran Cakrabuana dan
Rarasantang untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Pangeran Cakrabuana dan
Rarasantang pun berangkat. Di tanah suci Mekah, mereka tak hanya berhaji,
tetapi juga memperdalam pengetahuan mereka tentang agama Islam.
Rarasantang kemudian menikah dengan Sultan Syarif Abdullah, Raja Mesir
yang seorang duda.
Sultan Syarif
Abdullah mengganti nama Rarasantang menjadi Syarifah Mudaim. Mereka pun
dikaruniai dua orang putra, yakni Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.
Sementara itu, setelah tiga tahun tinggal di Mesir, Pangeran Cakrabuana kembali
ke Cirebon. Setiba di Cirebon, dibangunnya sebuah negeri dengan nama Caruban
Larang.
Di Mesir, Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah belajar Islam dengan
rajin dan tekun. Pada saat Syarif Hidayatullah berusia dua puluh tahun, ayahnya
wafat. Sebagai anak yang paling tua, ia ditunjuk untuk menggantikan sang ayah
sebagai Raja Mesir.
Namun, Syarif Hidayatullah menolak.
Diserahkannya takhta pada sang adik. Beberapa bulan kemudian, Syarif
Hidayatullah dan sang ibu kembali ke Cirebon.
Dalam perjalanan ke Cirebon itu, Syarif Hidayatullah dan ibunya singgah
di Mekah, Gujarat, serta Pasai. Tahun 1475 mereka pun tiba di Cirebon. Pangeran
Cakrabuana menyambutnya dengan sangat sukacita. Ketika itu Syekh Idlofi sudah
wafat. Syarif Hidayatullah ‘pun meneruskan jejak Syekh Idlofi mengajarkan agama
Islam.
Pangeran Cakrabuana kemudian menikahkan Syarif Hidayatullah dengan
putrinya, Pakungwati, dan mengangkatnya sebagai penguasa baru Caruban Larang.
Syarif
Hidayatullah kemudian pergi ke Pajajaran untuk menemui kakeknya, Prabu
Siliwangi.
Prabu Siliwangi menyambut Syarif Hidayatullah
dengan penuh kasih dan sukacita. Ketika Syarif Hidayatullah mengajaknya masuk
Islam, Prabu Siliwangi menolak. Namun, ia tidak menghalangi Syarif Hidayatullah
menyebarkan agama Islam di wilayah Pajajaran. Syarif Hidayatullah kemudian
meneruskan perjalanan. la tiba di satu daerah persawahan di Banten.
“Serang!” seru Syarif Hidayatullah, sambil menatap kagum hamparan padi
menguning di depannya. Ketika itu penduduk Banten sudah mengenal agama Islam
dari para pedagang Arab dan Gujarat yang berlabuh di pelabuhan Banten. Adipati
Banten menyambut baik kedatangan Syarif Hidayatullah.
la juga tidak
menghalangi Syarif Hidayatullah menyebarkan agama Islam di daerah kekuasaannya.
la bahkan menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Ratu Kawunganten.
Mereka kemudian dikaruniai dua orang anak, Ratu Winaon dan Pangeran
Sabakingking. Pangeran Sabakingking kemudian dikenal sebagai Maulana
Hasanuddin, Sultan Banten I. Daerah persawahan tempat Syarif Hidayatullah
pertama kali menginjakkan kaki di Banten, kemudian dikenal dengan nama Serang
(artinya ‘sawah’), sampai sekarang:
Asal Usul sejarah nama banten
Suku Banten atau lebih tepatnya orang
Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan
Banten di luar Parahyangan, Cirebon, dan Jakarta. Menurut sensus Badan Pusat
Statistik (BPS) tahun 2000, suku Banten populasinya 2,1% dari penduduk
Indonesia.
Orang Banten menggunakan bahasa Banten.
Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada
bahasa Sunda kuno, pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai
bahasa kasar. Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui program berita Beja
ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan siaran televisi lokal di wilayah
Banten.
Kata Banten muncul jauh sebelum
berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai
dan daerah sekelilingnya yaitu Cibanten atau sungai Banten. Rujukan tertulis
pertama mengenai Banten dapat ditemukan pada naskah Sunda Kuno Bujangga Manik
yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten dan sekitarnya sebagai berikut:
Tanggeran Labuhan Ratu, Ti kaler alas
Panyawung, tanggeran na alas Banten, Itu ta na gunung (...)ler, tanggeran alas
Pamekser, nu awas ka Tanjak Barat, Itu ta pulo Sanghiang, heuleut-heuleut nusa
Lampung, Ti timur pulo Tampurung, ti barat pulo Rakata, gunung di tengah sagara.
Itu ta gunung Jereding, tanggeran na alas Mirah, ti barat na lengkong Gowong,
Itu ta gunung Sudara, na gunung Guha Bantayan, tanggeran na Hujung Kulan, ti
barat bukit Cawiri. Itu ta na gunung Raksa, gunung Sri Mahapawitra, tanggeran
na Panahitan.
Dataran lebih tinggi yang dilalui sungai
ini disebut Cibanten Girang atau disingkat Banten Girang. Berdasarkan riset
yang dilakukan di Banten Girang pada 1988 dalam program Franco-Indonesian
excavations, di daerah ini telah ada pemukiman sejak abad ke 11 sampai 12 (saat
kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini
berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini.
Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke
arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten
oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya menguasai seluruh bekas
Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja SUnda Kalapa atau Batavia direbut oleh
Belanda sera Cirebon dan Parahyangan direbut oleh Mataram. Daerah kesultanan
ini kemudian diubah menjadi keresidenan pada zaman penjajahan Belanda.
Orang
asing kadang menyebut penduduk yang tinggal pada bekas keresidenan ini sebagai
Bantenese yang mempunyai arti "orang Banten". Contohnya, Guillot Claude
menulis pada halaman 35 bukunya The Sultanate of Banten: "These estates,
owned by Bantense of Chinese origin, were concentrated around the village of
Kelapadua." Dia menyatakan bahwa keturunan Cina juga adalah Bantenese atau
penduduk Banten.
Apa itu pencak silat?
Pencak
silat merupakan seni beladiri yang berakar dari budaya asli bangsa Indonesia.
Disinyalir dari abad ke 7 Masehi silat sudah menyebar ke pelosok nusantara.
Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika
penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran
agama Islam pada abad ke15 di Nusantara. Kala itu pencak silat telah diajarkan
bersama-sama dengan pelajaran agama di pesantren-pesatren dan juga surau-surau.
Budaya sholat dan silat menjadi satu keterikatan erat dalam penyebaran pencak
silat. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat,
menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping
itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.
Filsafat Matematika
Filsafat
matematika adalah cabang filsafat yang berujuan untuk
merenungkan dan menjelaskan sifat dari
matematika. Ini merupakan kasus khusus dari tugas epistemologi yang menjelaskan
pengetahuan manusia secara umum. Pertanyaan-pertanyaan
yang muncul dalam Filosofi matematika seperti: Apa dasar untuk
pengetahuan matematika? Apakah sifat kebenaran matematika? Apa ciri kebenaran
matematika? Apa pembenaran untuk pernyataan mereka? Mengapa kebenaran
matematika kebenaran yang diperlukan?
Pendekatan
secara luas diadopsi oleh epistemologi, adalah untuk
menganggap bahwa pengetahuan dalam bidang apapun diwakili oleh satu set
proposisi, bersama-sama dengan prosedur untuk
memverifikasi atau memberikan pembenaran pada suatu pernyataan.
Atas dasar ini, pengetahuan matematika terdiri dari satu set proposisi bersama
dengan bukti-buktinya. ketika pembuktian
matematika didasarkan pada penarikan kesimpulan saja tanpa dengan data
empiris, maka pengetahuan matematika dipahami
sebagai pengetahuan yang paling diyakini. Secara
tradisional, filsafat matematika adalah untuk
memberikan dasar kepastian pengetahuan
matematika. Yaitu, menyediakan sistem di mana pengetahuan matematika dapat
dibuang secara sistematis dalam membangun
kebenarannya. Hal ini tergantung pada asumsi yang diadopsi, yaitu secara
implisit atau eksplisit.
Asumsi
Peran filsafat matematika
adalah untuk memberikan landasan yang sistematis dan absolut untuk
pengetahuan matematika, yaitu dalam nilai kebenaran
matematika.
Asumsi ini adalah dasar
dari foundationism, doktrin bahwa fungsi filsafat matematika adalah untuk
memberikan dasar-dasar tertentu untuk pengetahuan matematika. Pandangan
Foundationism terhadap pengetahuan matematika terikat dengan pandangan
absolutist, yaitu menganggap bahwa kebenaran matematika adalah mutlak.
Langganan:
Postingan (Atom)
