Perenialisme berpandangan bahwa persoalan nilai
adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya.
Sedangkan perbuatan manusia merupakan pancaran isi jiwanya yang berasal dari
dan dipimpin oleh Tuhan. Secara teologis, manusia perlu mencapai kebaikan
tertinggi, yaitu nilai yang merupakan suatu kesatuan dengan Tuhan. Untuk dapat
sampai kesana manusia harus berusaha dengan bantuan akal rationya yang berarti
mengandung nilai kepraktisan.
Menurut Aristoteles, kebajikan dapat dibedakan:
yaitu yang moral dan yang intelektual. Kebajikan moral adalah kebajikan yang
merupakan pembentukan kebiasaan, yang merupakan dasar dari kebajikan
intelektual. Jadi, kebajikan intelektual dibentuk oleh pendidikan dan
pengajaran. Kebajikan intelektual didasari oleh pertimbangan dan pengawasan
akal. Oleh perenialisme estetika digolongkan kedalam filsafat praktis. Kesenian
sebagai salah satu sumber kenikmatan keindahan adalah suatu kebajikan
intelektual yang bersifat praktis filosofis. Hal ini berarti bahwa di dalam mempersoalkan
masalah keindahan harus berakar pada dasar – dasar teologis, ketuhanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar