Jumat, 30 Desember 2016
Hubungan filsafat dan pendidikan
Filsafat
pendidikan adalah ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan. Oleh karena itu bersifat
filosofis dengan sendirinya filsafat pendidikan ini pada hakikatnya adalah
penerapan suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan. Hubungan antara
filsafat dan ilmu pendidikan adalah suatu keharusan. Menurut ahli filsafat
Amerika yakni John Dewey menyatakan bahwa filsafat adalah teori umum dari
pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Di samping itu
memang filsafat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor
realita serta pengalaman yang banyak terdapat dalam lapangan pendidikan.
Hubungan
antara filsafat dan pendidikan tampaknya tak mungkin dapat dipisahkan, dimana
keduanya adanya korelasi yang kuat karena kajian filsafat pendidikan terpaksa
menoleh kembali kepada hakikat manusia sebagai makhluk Allah. Pertanyaan yang
mengarah kepada pemikiran filsafat pendidikan “siapa kita, di mana kita, dan ke
mana kita akan pergi dikaji dalam konteks tujuan penciptaanya”. Ketiga
pertanyaan yang sederhana itu dihubungkan dengan fungsi dan hakikat manusia
sebagai makhluk ciptaan Allah. Dan agaknya arti inilah yang mendorong para
filosof mengarahkan pandangan mereka pada konsep agama Hal ini menjadi jelas
bahwa filosof pendidikan yaitu seseorang yang menggunakan gaya filsafat dalam
pendidikan. Ia juga memiliki pandangan pendidikan yang jelas dan sejumlah
prinsip dan keyakinan yang mempunyai nilai pelaksanaan dalam bidang pendidikan.
Hakikat Empirisme Sebagai Pengenalan Pengetahuan
Menurut
aliran ini manusia itu dilahirkan putih bersih seperti kertas putih, artinya
tidak membawa potensi apa-apa. Perkembangan selanjutnya tergantung pada
pendidikan dan lingkungan. Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya
mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan
kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut
kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena
mempunyai bakat tersendiri, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung
keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan berasal dari dalam diri yang
berupa kecerdasan atau kemauan, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat
mengembangkan bakat atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya. Meskipun
demikian, penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang
memandang manusia sebagai makhluk pasif dan dapat diubah, misalnya melalui
modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific
psychologySkinner ataupun dengan behavioral. Behaviorisme itu menjadikan
perilaku manusia tampak keluar sebagai sasaran kajiannya, dengan tetap
menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar semata-mata.
Asal Usul Kota Serang
Raden
Walangsungsang dan Putri Rarasantang adalah putra putri Prabu Siliwangi, Raja
Kerajaan Pajajaran. Prabu Siliwangi beragama Buddha. la kembali ke agama
lamanya itu setelah istrinya, Nyi Mas Subanglarang (ibunda Walangsungsang dan
Rarasantang) wafat. Suatu ketika, Walangsungsang dan Rarasantang pergi menemui
Syekh Idlofi di Cirebon untuk belajar agama Islam, tanpa seizin sang ayah.
Mereka belajar agama Islam dengan tekun.
Setelah
beberapa lama, Syekh Idlofi menyuruh Walang sungsang membuka hutan di selatan
Gunung Jati untuk dijadikan sebuah pedukuhan. Walangsungsang pun melaksanakan
perintah itu. Pedukuhan itu kemudian diberi nama Tegal Alang¬alang dan
Walangsungsang dijadikan sebagai pemimpin pedukuhan itu dengan gelar Pangeran
Cakrabuana. Pada suatu hari Syekh Idlofi memerintahkan Pangeran Cakrabuana dan
Rarasantang untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Pangeran Cakrabuana dan
Rarasantang pun berangkat. Di tanah suci Mekah, mereka tak hanya berhaji,
tetapi juga memperdalam pengetahuan mereka tentang agama Islam.
Rarasantang kemudian menikah dengan Sultan Syarif Abdullah, Raja Mesir
yang seorang duda.
Sultan Syarif
Abdullah mengganti nama Rarasantang menjadi Syarifah Mudaim. Mereka pun
dikaruniai dua orang putra, yakni Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.
Sementara itu, setelah tiga tahun tinggal di Mesir, Pangeran Cakrabuana kembali
ke Cirebon. Setiba di Cirebon, dibangunnya sebuah negeri dengan nama Caruban
Larang.
Di Mesir, Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah belajar Islam dengan
rajin dan tekun. Pada saat Syarif Hidayatullah berusia dua puluh tahun, ayahnya
wafat. Sebagai anak yang paling tua, ia ditunjuk untuk menggantikan sang ayah
sebagai Raja Mesir.
Namun, Syarif Hidayatullah menolak.
Diserahkannya takhta pada sang adik. Beberapa bulan kemudian, Syarif
Hidayatullah dan sang ibu kembali ke Cirebon.
Dalam perjalanan ke Cirebon itu, Syarif Hidayatullah dan ibunya singgah
di Mekah, Gujarat, serta Pasai. Tahun 1475 mereka pun tiba di Cirebon. Pangeran
Cakrabuana menyambutnya dengan sangat sukacita. Ketika itu Syekh Idlofi sudah
wafat. Syarif Hidayatullah ‘pun meneruskan jejak Syekh Idlofi mengajarkan agama
Islam.
Pangeran Cakrabuana kemudian menikahkan Syarif Hidayatullah dengan
putrinya, Pakungwati, dan mengangkatnya sebagai penguasa baru Caruban Larang.
Syarif
Hidayatullah kemudian pergi ke Pajajaran untuk menemui kakeknya, Prabu
Siliwangi.
Prabu Siliwangi menyambut Syarif Hidayatullah
dengan penuh kasih dan sukacita. Ketika Syarif Hidayatullah mengajaknya masuk
Islam, Prabu Siliwangi menolak. Namun, ia tidak menghalangi Syarif Hidayatullah
menyebarkan agama Islam di wilayah Pajajaran. Syarif Hidayatullah kemudian
meneruskan perjalanan. la tiba di satu daerah persawahan di Banten.
“Serang!” seru Syarif Hidayatullah, sambil menatap kagum hamparan padi
menguning di depannya. Ketika itu penduduk Banten sudah mengenal agama Islam
dari para pedagang Arab dan Gujarat yang berlabuh di pelabuhan Banten. Adipati
Banten menyambut baik kedatangan Syarif Hidayatullah.
la juga tidak
menghalangi Syarif Hidayatullah menyebarkan agama Islam di daerah kekuasaannya.
la bahkan menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Ratu Kawunganten.
Mereka kemudian dikaruniai dua orang anak, Ratu Winaon dan Pangeran
Sabakingking. Pangeran Sabakingking kemudian dikenal sebagai Maulana
Hasanuddin, Sultan Banten I. Daerah persawahan tempat Syarif Hidayatullah
pertama kali menginjakkan kaki di Banten, kemudian dikenal dengan nama Serang
(artinya ‘sawah’), sampai sekarang:
Asal Usul sejarah nama banten
Suku Banten atau lebih tepatnya orang
Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan
Banten di luar Parahyangan, Cirebon, dan Jakarta. Menurut sensus Badan Pusat
Statistik (BPS) tahun 2000, suku Banten populasinya 2,1% dari penduduk
Indonesia.
Orang Banten menggunakan bahasa Banten.
Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada
bahasa Sunda kuno, pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai
bahasa kasar. Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui program berita Beja
ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan siaran televisi lokal di wilayah
Banten.
Kata Banten muncul jauh sebelum
berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai
dan daerah sekelilingnya yaitu Cibanten atau sungai Banten. Rujukan tertulis
pertama mengenai Banten dapat ditemukan pada naskah Sunda Kuno Bujangga Manik
yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten dan sekitarnya sebagai berikut:
Tanggeran Labuhan Ratu, Ti kaler alas
Panyawung, tanggeran na alas Banten, Itu ta na gunung (...)ler, tanggeran alas
Pamekser, nu awas ka Tanjak Barat, Itu ta pulo Sanghiang, heuleut-heuleut nusa
Lampung, Ti timur pulo Tampurung, ti barat pulo Rakata, gunung di tengah sagara.
Itu ta gunung Jereding, tanggeran na alas Mirah, ti barat na lengkong Gowong,
Itu ta gunung Sudara, na gunung Guha Bantayan, tanggeran na Hujung Kulan, ti
barat bukit Cawiri. Itu ta na gunung Raksa, gunung Sri Mahapawitra, tanggeran
na Panahitan.
Dataran lebih tinggi yang dilalui sungai
ini disebut Cibanten Girang atau disingkat Banten Girang. Berdasarkan riset
yang dilakukan di Banten Girang pada 1988 dalam program Franco-Indonesian
excavations, di daerah ini telah ada pemukiman sejak abad ke 11 sampai 12 (saat
kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini
berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini.
Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke
arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten
oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya menguasai seluruh bekas
Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja SUnda Kalapa atau Batavia direbut oleh
Belanda sera Cirebon dan Parahyangan direbut oleh Mataram. Daerah kesultanan
ini kemudian diubah menjadi keresidenan pada zaman penjajahan Belanda.
Orang
asing kadang menyebut penduduk yang tinggal pada bekas keresidenan ini sebagai
Bantenese yang mempunyai arti "orang Banten". Contohnya, Guillot Claude
menulis pada halaman 35 bukunya The Sultanate of Banten: "These estates,
owned by Bantense of Chinese origin, were concentrated around the village of
Kelapadua." Dia menyatakan bahwa keturunan Cina juga adalah Bantenese atau
penduduk Banten.
Apa itu pencak silat?
Pencak
silat merupakan seni beladiri yang berakar dari budaya asli bangsa Indonesia.
Disinyalir dari abad ke 7 Masehi silat sudah menyebar ke pelosok nusantara.
Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika
penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran
agama Islam pada abad ke15 di Nusantara. Kala itu pencak silat telah diajarkan
bersama-sama dengan pelajaran agama di pesantren-pesatren dan juga surau-surau.
Budaya sholat dan silat menjadi satu keterikatan erat dalam penyebaran pencak
silat. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat,
menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping
itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.
Filsafat Matematika
Filsafat
matematika adalah cabang filsafat yang berujuan untuk
merenungkan dan menjelaskan sifat dari
matematika. Ini merupakan kasus khusus dari tugas epistemologi yang menjelaskan
pengetahuan manusia secara umum. Pertanyaan-pertanyaan
yang muncul dalam Filosofi matematika seperti: Apa dasar untuk
pengetahuan matematika? Apakah sifat kebenaran matematika? Apa ciri kebenaran
matematika? Apa pembenaran untuk pernyataan mereka? Mengapa kebenaran
matematika kebenaran yang diperlukan?
Pendekatan
secara luas diadopsi oleh epistemologi, adalah untuk
menganggap bahwa pengetahuan dalam bidang apapun diwakili oleh satu set
proposisi, bersama-sama dengan prosedur untuk
memverifikasi atau memberikan pembenaran pada suatu pernyataan.
Atas dasar ini, pengetahuan matematika terdiri dari satu set proposisi bersama
dengan bukti-buktinya. ketika pembuktian
matematika didasarkan pada penarikan kesimpulan saja tanpa dengan data
empiris, maka pengetahuan matematika dipahami
sebagai pengetahuan yang paling diyakini. Secara
tradisional, filsafat matematika adalah untuk
memberikan dasar kepastian pengetahuan
matematika. Yaitu, menyediakan sistem di mana pengetahuan matematika dapat
dibuang secara sistematis dalam membangun
kebenarannya. Hal ini tergantung pada asumsi yang diadopsi, yaitu secara
implisit atau eksplisit.
Asumsi
Peran filsafat matematika
adalah untuk memberikan landasan yang sistematis dan absolut untuk
pengetahuan matematika, yaitu dalam nilai kebenaran
matematika.
Asumsi ini adalah dasar
dari foundationism, doktrin bahwa fungsi filsafat matematika adalah untuk
memberikan dasar-dasar tertentu untuk pengetahuan matematika. Pandangan
Foundationism terhadap pengetahuan matematika terikat dengan pandangan
absolutist, yaitu menganggap bahwa kebenaran matematika adalah mutlak.
Berpikir Kritis
Sering disebut bahwa
manusia adalah hewan yang mampu berpikir, artinya bahwa kemampuan berpikir
kritis itu merupakan fitrah yang inheren pada setiap manusia. Persoalannya
adalah bahwa fitrah itu tidak akan pernah berkembang secara otomatis, kecuali
jika dirangsang untuk diberdayakan secara eksternal seperti dengan penciprtaan
lingkungan yang kondusif, atau secara internal, yakni penyadaran diri melalui
pendidikan sehingga seseorang secara bertahap memiliki kemampuan berpikir
kritis itu.
Dalam keseharian kita
menyaksikan betapa banyak kejadian di sekitar kita yang menunjukkan lemahnya
daya nalar pelakunya. Sebut saja tawuran siswa SMU gara – gara saling pandang,
seorang pencuri dibakar hidup – hidup hanya karena mencuri sandal jepit, dan para
elit politik berkonsultasi kepada dukun agar tidak kehilangan jabatannya. Dan
lain sebagainya. Semua ini menunjukkan rendahnya daya nalar, dan bila
ditelusuri lebih jauh ini disebabkan oleh pendidikan kita gagal membuat bangsa
ini sebagai pemikir kritis.
Menurut Costa (1985) dalam
pendidikan berpikir kritis harus dibedakan tiga hal, walaupun semuanya saling
terkait, yaitu (1) teaching for thinking, (2) teaching of thinking, (3)
teaching about thinking. Yang pertama merujuk pada upaya guru dan para administratornya
untuk menciptakan sekolah yang kondusif bagi siswa untuk berpikir baik melalui
kurikulum, pembelajaran, maupun struktur fisik kelas. Yang kedua merujuk pada
kegiatan guru dalam membuat siswanya berpikir kritis. Dengan kata lain berpikir
kritis sengaja didesain, dengan melibatkan siswa seperti melalui perdebatan hal
– hal controversial. Yang ketiga merujuk pada pengajaran ‘tentang’ berpikir
kritis. Cakupannya setidak mencakup tiga hal, yaitu fungsi – fungsi otak,
metakognisi, dan kognisi epistemic, seperti mempelajari proses kreatif, hasil
karya, dan kehidupan orang – orang besar.
Filsafat Skeptis
Klaim yang
paling utama konstruktivisme sosial adalah bahwa ada pengetahuan yang tidak
pasti adalah mungkin, dan demikian halnya yang ‘tidak pasti’ itu juga terjadi
di dalam pengetahuan matematika. Bagi
beberapa filsuf pengetahuan empiris, tesis ini adalah salah satu yang dianut.
Termasuk pandangan skeptis yang dimulai dari Descartes; Filusuf empiris Inggris
Hume, filusuf pragmatis Amerika seperti James dan Dewey, dan filusuf modern
Amerika seperti Goodman, Putnan, Quine dan Rorty, dan filusuf modern ilmu
pengetahuan termasuk Popper, Khun,
Feyeraben, Lakatos dan Laudan..
Selama beberapa
alur pemikiran ini ada kesepakatan bahwa pengetahuan empiris dari dunia adalah
konstruksi manusia. Di luar yang disebutkan, pandangan ini dibagi oleh Kant dan
pengikut-pengikutnya, yang melihat pengetahuan tentang dunia sebagai dibentuk
oleh kategori mental bawaan pemikiran.
Scepticism
tentang pengetahuan empiris mutlak telah berkembang menjadi tampilan yang
dominan. Namun, sampai Lakatos (1962) yang cf ekstensi skeptisisme penuh untuk
matematika tidak dibuat. Sejak itu, ia telah mendapat penerimaan parsial,
sementara sisa kontroversial. konstruktivisme sosial adalah sebuah upaya untuk
memperluas pendekatan skeptis Lakatos secara sistematis untuk suatu filsafat
matematika. Namun, konstruktivisme sosial tidak berarti bentuk skeptisisme
penuh, seperti keraguan Kartesius. Karena menerima keberadaan dunia fisik
(sementara menyangkal pengetahuan yakin itu) dan menerima keberadaan bahasa dan
kelompok sosial. Baik fisik dan dunia sosial memainkan peran penting dalam
epistemologi konstruktivis sosial. Sebagai komentator di Wittgenstein
mengatakan: "Keraguan mengandaikan penguasaan permainan bahasa."
Kenny (1973, halaman 206) Konstruktivisme sosial adalah skeptis tentang
kemungkinan terjadinya pengetahuan tertentu, terutama dalam matematika, tetapi
tidak skeptis tentang pra-kondisi yang diperlukan untuk pengetahuan.
Masalah Bahasa Pribadi
Salah satu
tantangan untuk pernyataan konstruktivis sosial pengetahuan subjektif adalah
masalah ‘bahasa individu’. Jika konsep individu merupakan konstruksi pribadi, bagaimana
mereka mampu berkomunikasi menggunakan bahasa bersama? Mengapa ahli matematika
yang berbeda memahami hal yang sama dengan konsep atau proposisi, ketika makna
pencurian secara pribadi unik? Mungkin tidak masing-masing memiliki bahasa individu,
untuk merujuk ke makna nya individu sendiri?
Konstruktivisme
sosial mengatasi masalah ini melalui negosiasi makna interpersonal untuk
mencapai ‘fit’. Dukungan untuk posisi ini, jika tidak bentuk argumen yang
tepat, adalah luas. Wittgenstein (1,953) pertama menjawab masalah, dengan
alasan bahwa bahasa individu tidak bisa eksis. Sejumlah filsuf mengomentari
karyanya, seperti Kenny (1973) dan Bloor (1983), mendukung penolakan terhadap
bahasa individu, seperti yang dilakukan orang lain termasuk Ayer (1956) dan
Quine (1960). Berkaitan dengan matematika, masalah bahasa individu juga
dianggap dapat dipecahkan, misalnya dengan Tymoczko (1985) dan Lerman (1989),
keduanya berdebat dari dekat posisi untuk konstruktivisme sosial.
Solusi
dari masalah bahasa individu dengan konstruktivisme sosial mencerminkan
pendapat substansial filosofis. Secara umum, dikatakan bahwa aturan bersama dan
'tarik objektif' dari penggunaan bahasa antar-pribadi membuat publik, konsisten
dengan konstruktivisme sosial.
Dasar Linguistik dari Logika
Hal
yang sama dapat dikatakan untuk logika dalam bahasa. Penggunaan
istilah-istilah logika kunci seperti ‘tidak’, ‘dan’, ‘atau’, ‘berimplikasi’,
‘jika dan hanya
jika’, ‘memuat’, ‘terdapat’, ‘untuk semua’, ‘adalah’, dan seterusnya, secara ketat mengikuti aturan-aturan
linguistik. (Kita mengabaikan inkonsistensi variasi sehari-hari seperti ‘tidak-tidak = tidak, yang ditolak oleh
matematika dan logika). Aturan-aturan ini tetap sebagaimana kebenaran pernyataan dasar seperti ‘Jika A, maka A atau B’, dan
aturan-aturan inferensi seperti ‘A’ dan ‘A berimplikasi B’ bersama-sama berarti ‘B’. Aturan-aturan ini mencerminkan penggunaan istilah tersebut, dan
maknanya (menurut
Wittgenstein). Aturan dan kesepakatan logika yang mendukung lebih dari sekadar ‘kebenaran’ dari
logika. Sebagaimana telah kita lihat, mereka juga mendukung hubungan logis,
termasuk implikasi dan kontradiksi. Jadi penalaran, dan memang, seluruh dasar
argumen rasional,
berpijak pada aturan-aturan bersama bahasa.
Bentuk-bentuk
yang lebih abstrak dan kuat dari logika yang digunakan dalam matematika, juga berada pada logika yang tertanam dalam penggunaan bahasa
alamiah. Namun, aturan-aturan dan makna logika matematika menyatakan
versi terformalkan dan penghalusan logika ini. Mereka memperbaiki sebuah eratan himpunan permainan bahasa yang tumpang tindih dengan logika bahasa
alami.
Konvensionalisme
Pandangan pengikut aliran konvensionalis menyebutkan bahwa pengetahuan
matematika dan kebenaran didasarkan pada konvensi linguistik. Atau lebih jauh kebenaran logika dan
matematika memiliki sifat analitis, benar karena ada hubungan nilai dari makna
istilah yang digunakan. Bentuk
moderat dari konvensionalisme seperti Quine (1936) atau Hempel (1945)
menggunakan konvensi linguistik sebagai sumber kebenaran matematika dasar yang
menjadi landasan konstruksi bangunan matematika. Bentuk konvensionalisme ini
sedikit banyak sama dengan “ifthenisme” yang dijelaskan di Bab 1 sebagai posisi mempertahankan diri aliran
pondasionis yang sudah kalah. Pandangan ini tetap saja absolutis dan tetap
dapat dikenakan penolakan yang sama.
Filasafat matematika konvensionalis telah
dikritik oleh penulis sebelumnya dengan dua alasan. Pertama, dikatakan disini bahwa aliran ini tidak banyak memberikan
informasi. Terlepas dari penjelasan tentang sifat social matematika, konvensionalisme
hanya memberikan sedikit informasi. Kedua, penolakan dari Quine. Penolakan Quine tidak memiliki alasan kuat
karena penolakan itu tidak dapat dikenakan pada bahasa asli dan dikenakan pada
peran pembatas pada konvensi umum. Sebaliknya dia benar dengan mengatakan bahwa
kita tidak akan menemukan semua kebenaran matematika dan logika yang
dikemukakan secara literal seperti aturan dan konvensi linguistik. Meskipun Quine
mengkritik konvensionalisme terkait dengan logika, dia memandang aliran ini memiliki
potensi menjadi filsafat matematika yang sedikit berbeda.
Platonisme
Platonisme adalah pandangan bahwa objek matematika memiliki eksistensi
objektif yang nyata dalam beberapa wilayah ideal. Pandangan ini berasal dari
Plato dan dapat dilihat dalam tulisan penganut aliran Logis seperti Frege dan
Rusell, dan juga Cantor, Bernays (1934), Hardy (1967) dan Godel (1964). Penganut aliran
Platonis berpendapat bahwa objek dan struktur matematika memiliki eksistensi
nyata yang terpisah dari kemanusiaan dan oleh karena itu matematika adalah
proses untuk menemukan hubungan yang ada dibaliknya. Menurut penganut aliran
Platonis pengetahuan matematika terdiri dari penjelasan objek-objek dan
hubungan dengan struktur yang menghubungkan mereka.
Platonisme dengan jelas memberikan pemecahan terhadap persoalan
objektifitas matematika. Platonisme mencakup baik kebenarannya dan eksistensi
objeknya sebagaimana juga kemandirian matematika yang memiliki hukum dan logika
sendiri. Yang lebih menarik disini adalah adanya fakta bahwa filsafat yang tampaknya
tidak masuk akal ini berhasil menciptakan ahli matematika seperti Cantor dan
Godel.
Disamping hal yang menarik seperti itu,
platonisme memiliki dua kelemahan penting. Pertama,
aliran ini tidak mampu menawarkan penjelasan yang tepat terkait dengan
bagaimana ahli matematika memperoleh akses ke dalam pengetahuan yang ada dalam wilayah
platonic. Kedua, aliran ini
tidak mampu memberikan deskripsi yang tepat untuk matematika baik secara internal atau eksternal. Karena aliran ini
tidak dapat memenuhi persyaratan di atas, platonisme ditolak sebagai filsafat matematika.
Tema Filsafat Bahasa
Wittgenstain bersama Russell dan para
pengikutnya pada permulaannya tidak percaya bahwa bahasa siasa dapat dipakai
sebagai ekspresi filsafat, dan mengharapkan adanya bahasa ideal seperti logika
simbolis untuk kepentingan filsafat. Tema filsafat berikut ini tidak saja
diajukan oleh Wittgenstein tetapi juga dari para filsuf lain yang mengajukan
teorinya sekaitan dengan bahasa.
·
Permainan
Bahasa (languange
games)
Dalam karyanya yang
kedua, Philosophical Investigation
(1953) Wittgenstein menyadari bahwa bahasa tidak hanya dimaksudkan untuk
mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan juga dalam fungsi
lain seperti pertanyaan, perintah, pengumuman, dan lain sebagainya. Menarik
sekali bahwa Wittgenstein menggunakan metafor languange games atau permainan bahasa. Dalam sosiolinguistik
dikenal istilah speech event atau
peristiwa tutur yang dimediasi oleh bahasa tertentu atau permainan bahasa yang
sesuai dengan konteksnya.
·
Teori
Gambaran (picture
theory)
Lewat bahasa kita
menggambarkan dunia. Proposisi-proposisi juga menggambarkan kenyataan.
Pengertian sebuah proposisi terletak pada situasi yang digambarkan atau yang
dihadirkan di dalamnya. Proposisi yang sederhana disebut proposisi elementer
yang merupakan penjelasan suatu bentuk keberadaan atau peristiwa. Adapun
proposisi sebagai sarana yang berupa ungkapan bahasa yang menghadirkan bentuk
peristiwa (state of affairs) kepada
kita, itulah yang dapat dikenai kualifikasi benar atau salah.
·
Proposisi
dalam Struktur Logika Bahasa
Dunia adalah
keseluruhan fakta, dan kebenaran dari dunia itu hanya dapat dinyatakan dalam
bahasa. Suatu proposisi dapat dianalisis menjadi sebuah proposisi sebagai
bagian terakhirnya yang dalam istilah Wittgenstein disebut ultimate constituent. Dengan kata lain setiap proposisi elementer
hanya memiliki satu analisis final. Proposisi-proposisi itu mengungkapkan
keberadaan suatu peristiwa atau state of
affair, sedangkan keseluruhan proposisi itu adalah bahasa.
Proposisi-proposisi dasar merupakan bangunan akhir dari bahasa karena jumlah
keseluruhan proposisi itu adalah bahasa.
·
Kekeliruan
Kategori
Segala sesuatu yang
diindra oleh manusia dipesepsi lalu diolah untuk menjadi pengetahuan.
Pengolahan ini dilakukan melalui proses kategorisasi. Dalam penelitia
kualitatif misalnya, data observasi dan data wawancara dianaisis lewat
kategorisasi. Kekeliruan pokok yang sering terjadi dalam filasafat adalah
kekeliruan kategori, yakni pencampuradukan anggota yang berbeda sifatnya ke
dalam satu kategori. Ryle lewat bukunya The
Concept of Mind yang memperkenalkan konsep dari Rene Descartes dalam
mendeskripsi manusia yang memiliki jiwa atau ruhdan juga memiliki tubuh atau
raga.
FILSAFAT POLITIK
Istilah filsafat
berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu philo dan sophia.
Dua kata ini mempunyai arti masing-masing. Philo berarti cinta dalam
arti lebih luas atau umum yaitu keinginan, kehendak. Sedangkan Sophia
mempunyai arti hikmah, kebijaksanaan, dan kebenaran. Jadi, secara etimologis,
filsafat dapat diartikan sebagai cinta akan kebijaksanaan (love of wisdom).
Filsafat sebagai bentuk proses berpikir yang sistematis dan radikal mempunyai
objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang
ada. Dan segala yang ada mencakup ada yang tampak (visible). Ada yang
tampak (visible) di sini adalah dunia empiris artinya yang dapat dialami
manusia, sedangkan ada yang tidak tampak adalah dunia ide-ide yang disebut
dunia metafisik.
Dalam perkembangan selanjutnya, objek material filsafat dibagi atas tiga bagian
yaitu yang ada dalam kenyataan, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam
kemungkinan. Dan ada pun objek formal filsafat adalah sudut pandang yang
menyeluruh, radikal, dan objektif tentang yang ada, agar dapat mencapai
hakikatnya, intinya.
Di samping pengertian diatas, berfilsafat berarti bergulat dengan
masalah-masalah dasar manusia dan membantu manusia untuk memecahkannya.
Kenyataan seperti ini, tentu membawa filsafat pada pertanyaan-pertanyaan
tentang tatanan masyarakat secara keseluruhan yang notabene adalah juga bidang
politik.
Bagi Plato, filsafat adalah pengetahuan tentang segalanya. Dan bagi Aritoteles,
filsafat adalah menyelidiki sebab dan azas segala benda. Karena itu,
Aristoteles menamakan filsafat dengan “teologia” atau “filsafat petama”. Politik
adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang
antara lain berwujud pada proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Dalam negara seperti Indonesia, kekuasaan negara
dibagi atas 3 (tiga) bagian. Pertama, Lembaga Eksekutif oleh Presiden. Kedua,
Lembaga Legislatif oleh DPR. Ketiga, Lembaga Yudikatif oleh Mahkamah
Agung. Ketiga-tiganya bersifat independen. Artinya tidak saling mempengaruhi satu dengan yang
lainnya. Politik juga sering dikaitkan dengan hal penyelenggaraan pemerintahan
dan negara. Yang menyelenggarakannya bukan rakyat, tetapi pemerintahan yang
berkuasa. Hanya saja partisipasi rakyat sangat diharapkan. Tujuannya agar kerja
pemerintahan dapat terlaksana dengan baik. Percuma suatu pemerintahan menyelenggarakan
negara tanpa dukungan dari rakyat. Karena itu, kerja sama antara keduanya
sangat diharapkan. Rakyat menyampaikan aspirasi kepada pemerintahan melalui
wakil-wakilnya di Parlemen yang diwakili oleh DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
baik pusat maupun Daerah serta DPD (Dewan Perwakilan Daerah).
Selasa, 27 Desember 2016
FILOSOFI TOPENG CIREBON
Inilah teka-teki Tarian Panji
dalam Topeng Cirebon. Bagaimana penduduk desa mampu menciptakan tarian semacam
itu? Penduduk desa yang tersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan
penciptanya. Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton
Cirebon yang dahulu memeliharanya. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status
“pegawai” oleh Gubernur Jenderal Daendels, dan tidak diperkenankan memerintah
secara otonom lagi, maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton
tidak dimungkinkan lagi. Para abdi dalem Keraton terpaksa dibatasi sampai yang
amat diperlukan sesuai dengan “gaji” yang diterima Raja dari Pemerintah Hindia
Belanda.
Begitulah penari-penari dan
penabuh gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan.
Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di
lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka
Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses
transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya
berbagai “gaya” Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan
lain-lain.
Untuk merekonstruksi kembali
Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya
Topeng Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola
dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita
peroleh bentuk yang mendekati “aslinya”. Namun metode ini tak dapat dilakukan
tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.
Dari mana filsafat tari
Topeng Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian
yang sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian
tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada
budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis
terhadapnya.
Siapakah Empu pencipta tarian
ini? Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat
Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulis dikenal
di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat
pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.
Makna Lambang Banten
- Kubah masjid, melambangkan kultur masyarakat yang agamis. Bintang bersudut lima, Ketuhanan Yang Maha Esa.
- Menara Masjid Agung Banten, melambangkan semangat tinggi, yang berpedoman pada petunjuk Allah SWT.
- Gapura Kaibon, melambangkan Daerah Provinsi Banten sebagai pintu gerbang peradaban dunia, perekonomian dan lalu lintas internasional menuju era globalisasi.
- Padi berwarna kuning berjumlah 17 dan Kapas berwarna putih berjumlah 8 Tamgkai , 4 Kelopak Berwarna cokelta, 5 KUMTUM BUNGA melambangkan Provinsi Banten merupakan daerah agraris, cukup sandang pangan. 17-8-45 menunjukkan Proklamasi Republik Indonesia.
- Gunung berwarna Hitam, melambangkan kekayaan alam dan menunjukkan dataran rendah serta pegunungan. Badak bercula satu, melambangkan masyarakat yang pantang menyerah dalam menegakkan kebenaran dan dilindungi oleh hukum.
- Laut berwana biru, dengan gelombang putih berjumlah 17 melambangkan daerah maritim, kaya dengan potensi lautnya.
- Gerigi berwana abu-abu berjumlah 10, menunjukkan orientasi semangat kerja pembangunan dan sektor industri.
- Dua garis marka berwana putih, menunjukkan landasan pacu Bandara Soekarno Hatta, lampu bulatan kuning (beacon light) melambangkan pemacu semangat mencapai cita-cita.
- Pita berwarna kuning, melambangkan ikaatan persatuan dan kesatuan masyarakat Banten.
- Badak bercula satu, melambangkan fauna identitas banten yang menjadi warisan dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)
