Menurut Comte dalam Sadulloh (2003:114), terdapat tiga perkembangan berpikir yang dialami manusia yaitu:
a. Tingkatan teologis,
Dalam hal ini pola berpikir manusia dikuasai oleh tahayul dan prasangka
b. Tingkatan metafisik,
Pada tingkatan ini, pola berpikir manusia telah meninggalkan teologis, namun masih berpikir abstrak, masih mempersoalkan hakikat dari segala yang ada, termask hakikat yang gaib juga.
c. Tingkatan positif,
7 d. Dalam hal ini, tingatan berpikir yang mendasarkan
pada sains, dimana pandangan dgmatis dan spekulatif metafisik diganti oleh
pengetahuan faktual.
8 Harun
Hadiwijono, 1980 dalam Sadulloh (2003:115) zaman positif adalah zaman dimana
orang tahu, bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengetahuan yang
mutlak, baik pengenalan teologi maupun pengenalan metafisik. Jadi, dikatakan
positivisme, karena mereka beranggapan bahwa yang dapat kita pelajari hanyalah
yang berdasarkan fakta-fakta, berdasarkan data-data yang nyata yaitu mereka
namakan positif. Apa yang kita ketahui hanyalah yang nampak saja. Di luar itu
manusia tidak perlu mengetahuinya. Positivisme membatasi studinya hanya pada
bidang gejala-gejala.
9 Selanjutnya
dapat kita simak pandangan Tohmas Hobbes. Sebagai penganut empiris materialime,
ia berpendapat bahwa pengalaman merupakan awal dari segala pengetahuan, juga
awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan dikokohkan oleh
pengalaman. Hanya pengalamanlah yang memberikan kepastian. Pengetahuan melalui
akal hanya memiliki fungsi mekanis semata, sebab pengenalan dengan akal
mewujudkan suatu proses penjumlahan dan pengurangan. (Harun Hadiwijono, 1980
dalam Sadulloh (2003:115)).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar