Jumat, 30 Desember 2016

SERTIFIKAT SEMINAR


Hubungan filsafat dan pendidikan


Filsafat pendidikan adalah ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan. Oleh karena itu bersifat filosofis dengan sendirinya filsafat pendidikan ini pada hakikatnya adalah penerapan suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan. Hubungan antara filsafat dan ilmu pendidikan adalah suatu keharusan. Menurut ahli filsafat Amerika yakni John Dewey menyatakan bahwa filsafat adalah teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Di samping itu memang filsafat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor realita serta pengalaman yang banyak terdapat dalam lapangan pendidikan.
                                
Hubungan antara filsafat dan pendidikan tampaknya tak mungkin dapat dipisahkan, dimana keduanya adanya korelasi yang kuat karena kajian filsafat pendidikan terpaksa menoleh kembali kepada hakikat manusia sebagai makhluk Allah. Pertanyaan yang mengarah kepada pemikiran filsafat pendidikan “siapa kita, di mana kita, dan ke mana kita akan pergi dikaji dalam konteks tujuan penciptaanya”. Ketiga pertanyaan yang sederhana itu dihubungkan dengan fungsi dan hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Dan agaknya arti inilah yang mendorong para filosof mengarahkan pandangan mereka pada konsep agama Hal ini menjadi jelas bahwa filosof pendidikan yaitu seseorang yang menggunakan gaya filsafat dalam pendidikan. Ia juga memiliki pandangan pendidikan yang jelas dan sejumlah prinsip dan keyakinan yang mempunyai nilai pelaksanaan dalam bidang pendidikan.
                                              
Hubungan yang erat antara filsafat umum dan filsafat pendidikan itu berpuncak pada hubungan yang erat antara filsafat umum dan filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan filsafat dan kaidah dalam bidang pendidikan. Filsafat tersebut mencerminkan satu segi pelaksanaan prinsipprinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam menyelesaikan persoalan pendidikan secara praktis.

Hakikat Empirisme Sebagai Pengenalan Pengetahuan


                

Menurut aliran ini manusia itu dilahirkan putih bersih seperti kertas putih, artinya tidak membawa potensi apa-apa. Perkembangan selanjutnya tergantung pada pendidikan dan lingkungan. Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena mempunyai bakat tersendiri, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan berasal dari dalam diri yang berupa kecerdasan atau kemauan, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya. Meskipun demikian, penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai makhluk pasif dan dapat diubah, misalnya melalui modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific psychologySkinner ataupun dengan behavioral. Behaviorisme itu menjadikan perilaku manusia tampak keluar sebagai sasaran kajiannya, dengan tetap menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar semata-mata.
                                                      
Secara epistimologi, istilah empirisme berasal dari kata Yunani yaitu “emperia” yang artinya pengalaman. Berbeda dengan rasionalisme yang memberikan kedudukan bagi rasio sebagai sumber pengetahuan, maka empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah. Thomas Hobbes menganggap bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan (kalkulus), yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama, dengan cara berlainan. Dunia dan materi adalah objek pengenalan yang merupakan sistem materi dan merupakan suatu proses yang berlangsung tanpa hentinya atas dasar hukum dan mekanisme. Prinsip dan metode empirisme diterapkan pertama kali oleh Jhon Locke, langkah utamanya adalah teori empirisme seperti yang telah diajarkan Bacon dan Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Menurut dia, segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu.

Asal Usul Kota Serang

                  Raden Walangsungsang dan Putri Rarasantang adalah putra putri Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Pajajaran. Prabu Siliwangi beragama Buddha. la kembali ke agama lamanya itu setelah istrinya, Nyi Mas Subanglarang (ibunda Walangsungsang dan Rarasantang) wafat. Suatu ketika, Walangsungsang dan Rarasantang pergi menemui Syekh Idlofi di Cirebon untuk belajar agama Islam, tanpa seizin sang ayah. Mereka belajar agama Islam dengan tekun.
                  Setelah beberapa lama, Syekh Idlofi menyuruh Walang sungsang membuka hutan di selatan Gunung Jati untuk dijadikan sebuah pedukuhan. Walangsungsang pun melaksanakan perintah itu. Pedukuhan itu kemudian diberi nama Tegal Alang¬alang dan Walangsungsang dijadikan sebagai pemimpin pedukuhan itu dengan gelar Pangeran Cakrabuana. Pada suatu hari Syekh Idlofi memerintahkan Pangeran Cakrabuana dan Rarasantang untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Pangeran Cakrabuana dan Rarasantang pun berangkat. Di tanah suci Mekah, mereka tak hanya berhaji, tetapi juga memperdalam pengetahuan mereka tentang agama Islam.
Rarasantang kemudian menikah dengan Sultan Syarif Abdullah, Raja Mesir yang seorang duda.
                Sultan Syarif Abdullah mengganti nama Rarasantang menjadi Syarifah Mudaim. Mereka pun dikaruniai dua orang putra, yakni Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sementara itu, setelah tiga tahun tinggal di Mesir, Pangeran Cakrabuana kembali ke Cirebon. Setiba di Cirebon, dibangunnya sebuah negeri dengan nama Caruban Larang.
Di Mesir, Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah belajar Islam dengan rajin dan tekun. Pada saat Syarif Hidayatullah berusia dua puluh tahun, ayahnya wafat. Sebagai anak yang paling tua, ia ditunjuk untuk menggantikan sang ayah sebagai Raja Mesir.
                Namun, Syarif Hidayatullah menolak. Diserahkannya takhta pada sang adik. Beberapa bulan kemudian, Syarif Hidayatullah dan sang ibu kembali ke Cirebon.
Dalam perjalanan ke Cirebon itu, Syarif Hidayatullah dan ibunya singgah di Mekah, Gujarat, serta Pasai. Tahun 1475 mereka pun tiba di Cirebon. Pangeran Cakrabuana menyambutnya dengan sangat sukacita. Ketika itu Syekh Idlofi sudah wafat. Syarif Hidayatullah ‘pun meneruskan jejak Syekh Idlofi mengajarkan agama Islam.
Pangeran Cakrabuana kemudian menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Pakungwati, dan mengangkatnya sebagai penguasa baru Caruban Larang.
Syarif Hidayatullah kemudian pergi ke Pajajaran untuk menemui kakeknya, Prabu Siliwangi.
Prabu Siliwangi menyambut Syarif Hidayatullah dengan penuh kasih dan sukacita. Ketika Syarif Hidayatullah mengajaknya masuk Islam, Prabu Siliwangi menolak. Namun, ia tidak menghalangi Syarif Hidayatullah menyebarkan agama Islam di wilayah Pajajaran. Syarif Hidayatullah kemudian meneruskan perjalanan. la tiba di satu daerah persawahan di Banten.
“Serang!” seru Syarif Hidayatullah, sambil menatap kagum hamparan padi menguning di depannya. Ketika itu penduduk Banten sudah mengenal agama Islam dari para pedagang Arab dan Gujarat yang berlabuh di pelabuhan Banten. Adipati Banten menyambut baik kedatangan Syarif Hidayatullah.
              la juga tidak menghalangi Syarif Hidayatullah menyebarkan agama Islam di daerah kekuasaannya. la bahkan menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Ratu Kawunganten. Mereka kemudian dikaruniai dua orang anak, Ratu Winaon dan Pangeran Sabakingking. Pangeran Sabakingking kemudian dikenal sebagai Maulana Hasanuddin, Sultan Banten I. Daerah persawahan tempat Syarif Hidayatullah pertama kali menginjakkan kaki di Banten, kemudian dikenal dengan nama Serang (artinya ‘sawah’), sampai sekarang:

Asal Usul sejarah nama banten

Suku Banten atau lebih tepatnya orang Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten di luar Parahyangan, Cirebon, dan Jakarta. Menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, suku Banten populasinya 2,1% dari penduduk Indonesia.
Orang Banten menggunakan bahasa Banten. Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada bahasa Sunda kuno, pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai bahasa kasar. Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui program berita Beja ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan siaran televisi lokal di wilayah Banten.
Kata Banten muncul jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai dan daerah sekelilingnya yaitu Cibanten atau sungai Banten. Rujukan tertulis pertama mengenai Banten dapat ditemukan pada naskah Sunda Kuno Bujangga Manik yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten dan sekitarnya sebagai berikut:
Tanggeran Labuhan Ratu, Ti kaler alas Panyawung, tanggeran na alas Banten, Itu ta na gunung (...)ler, tanggeran alas Pamekser, nu awas ka Tanjak Barat, Itu ta pulo Sanghiang, heuleut-heuleut nusa Lampung, Ti timur pulo Tampurung, ti barat pulo Rakata, gunung di tengah sagara. Itu ta gunung Jereding, tanggeran na alas Mirah, ti barat na lengkong Gowong, Itu ta gunung Sudara, na gunung Guha Bantayan, tanggeran na Hujung Kulan, ti barat bukit Cawiri. Itu ta na gunung Raksa, gunung Sri Mahapawitra, tanggeran na Panahitan.
Dataran lebih tinggi yang dilalui sungai ini disebut Cibanten Girang atau disingkat Banten Girang. Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada 1988 dalam program Franco-Indonesian excavations, di daerah ini telah ada pemukiman sejak abad ke 11 sampai 12 (saat kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya menguasai seluruh bekas Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja SUnda Kalapa atau Batavia direbut oleh Belanda sera Cirebon dan Parahyangan direbut oleh Mataram. Daerah kesultanan ini kemudian diubah menjadi keresidenan pada zaman penjajahan Belanda.
            Orang asing kadang menyebut penduduk yang tinggal pada bekas keresidenan ini sebagai Bantenese yang mempunyai arti "orang Banten". Contohnya, Guillot Claude menulis pada halaman 35 bukunya The Sultanate of Banten: "These estates, owned by Bantense of Chinese origin, were concentrated around the village of Kelapadua." Dia menyatakan bahwa keturunan Cina juga adalah Bantenese atau penduduk Banten.

Apa itu pencak silat?

Pencak silat merupakan seni beladiri yang berakar dari budaya asli bangsa Indonesia. Disinyalir dari abad ke 7 Masehi silat sudah menyebar ke pelosok nusantara. Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke15 di Nusantara. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di pesantren-pesatren dan juga surau-surau. Budaya sholat dan silat menjadi satu keterikatan erat dalam penyebaran pencak silat. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.
            Banten yang namanya sangat dikenal untuk ilmu silatnya juga penyebarannya tidak terlepas dari ajaran agama Islam. Tidak heran banyak nama dari jurus dan gerakan perguruan silat asli Banten diambil dari aksara dan bahasa arab. Pencak silat Banten mulai dikenal seiring dengan berdirinya kerajaan Islam Banten yang didirikan pada abad 15 masehi dengan raja pertamanya Sultan Hasanudin. Perkembangan pencak silat pada saat itu tidak terlepas dari dijadikannya silat sebagai alat untuk penggemblengan para prajurit kerajaan sebagai bekal ketangkasan bela negara yang diajarkan oleh para guru silat yang mengusasai berbagai aliran. Silat juga sebagai dasar alat pertahanan kerajaan dan masyarakat umum Banten dalam memerangi kolonialisme para penjajah.

Filsafat Matematika



Filsafat matematika adalah cabang filsafat yang berujuan untuk merenungkan dan menjelaskan sifat dari matematika. Ini merupakan kasus khusus dari tugas epistemologi yang menjelaskan pengetahuan manusia secara umum. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam Filosofi matematika seperti: Apa dasar untuk pengetahuan matematika? Apakah sifat kebenaran matematika? Apa ciri kebenaran matematika? Apa pembenaran untuk pernyataan mereka? Mengapa kebenaran matematika kebenaran yang diperlukan?

Pendekatan secara luas diadopsi oleh epistemologi, adalah untuk menganggap bahwa pengetahuan dalam bidang apapun diwakili oleh satu set proposisi, bersama-sama dengan prosedur untuk memverifikasi atau memberikan pembenaran pada suatu pernyataan. Atas dasar ini, pengetahuan matematika terdiri dari satu set proposisi bersama dengan bukti-buktinya. ketika pembuktian matematika didasarkan pada penarikan kesimpulan saja tanpa dengan data empiris, maka pengetahuan matematika dipahami sebagai pengetahuan yang paling diyakini. Secara tradisional, filsafat matematika adalah untuk memberikan dasar kepastian pengetahuan matematika. Yaitu, menyediakan sistem di mana pengetahuan matematika dapat dibuang secara sistematis dalam membangun kebenarannya. Hal ini tergantung pada asumsi yang diadopsi, yaitu secara implisit atau eksplisit.
Asumsi
Peran filsafat matematika adalah untuk memberikan landasan yang sistematis dan absolut untuk pengetahuan matematika, yaitu dalam nilai kebenaran matematika.
Asumsi ini adalah dasar dari foundationism, doktrin bahwa fungsi filsafat matematika adalah untuk memberikan dasar-dasar tertentu untuk pengetahuan matematika. Pandangan Foundationism terhadap pengetahuan matematika terikat dengan pandangan absolutist, yaitu menganggap bahwa kebenaran matematika adalah mutlak.

Berpikir Kritis



Sering disebut bahwa manusia adalah hewan yang mampu berpikir, artinya bahwa kemampuan berpikir kritis itu merupakan fitrah yang inheren pada setiap manusia. Persoalannya adalah bahwa fitrah itu tidak akan pernah berkembang secara otomatis, kecuali jika dirangsang untuk diberdayakan secara eksternal seperti dengan penciprtaan lingkungan yang kondusif, atau secara internal, yakni penyadaran diri melalui pendidikan sehingga seseorang secara bertahap memiliki kemampuan berpikir kritis itu.

Dalam keseharian kita menyaksikan betapa banyak kejadian di sekitar kita yang menunjukkan lemahnya daya nalar pelakunya. Sebut saja tawuran siswa SMU gara – gara saling pandang, seorang pencuri dibakar hidup – hidup hanya karena mencuri sandal jepit, dan para elit politik berkonsultasi kepada dukun agar tidak kehilangan jabatannya. Dan lain sebagainya. Semua ini menunjukkan rendahnya daya nalar, dan bila ditelusuri lebih jauh ini disebabkan oleh pendidikan kita gagal membuat bangsa ini sebagai pemikir kritis.
Menurut Costa (1985) dalam pendidikan berpikir kritis harus dibedakan tiga hal, walaupun semuanya saling terkait, yaitu (1) teaching for thinking, (2) teaching of thinking, (3) teaching about thinking. Yang pertama merujuk pada upaya guru dan para administratornya untuk menciptakan sekolah yang kondusif bagi siswa untuk berpikir baik melalui kurikulum, pembelajaran, maupun struktur fisik kelas. Yang kedua merujuk pada kegiatan guru dalam membuat siswanya berpikir kritis. Dengan kata lain berpikir kritis sengaja didesain, dengan melibatkan siswa seperti melalui perdebatan hal – hal controversial. Yang ketiga merujuk pada pengajaran ‘tentang’ berpikir kritis. Cakupannya setidak mencakup tiga hal, yaitu fungsi – fungsi otak, metakognisi, dan kognisi epistemic, seperti mempelajari proses kreatif, hasil karya, dan kehidupan orang – orang besar.

Filsafat Skeptis


Klaim yang paling utama konstruktivisme sosial adalah bahwa ada pengetahuan yang tidak pasti adalah mungkin, dan demikian halnya yang ‘tidak pasti’ itu juga terjadi di dalam pengetahuan matematika. Bagi beberapa filsuf pengetahuan empiris, tesis ini adalah salah satu yang dianut. Termasuk pandangan skeptis yang dimulai dari Descartes; Filusuf empiris Inggris Hume, filusuf pragmatis Amerika seperti James dan Dewey, dan filusuf modern Amerika seperti Goodman, Putnan, Quine dan Rorty, dan filusuf modern ilmu pengetahuan  termasuk Popper, Khun, Feyeraben, Lakatos dan Laudan..
Selama beberapa alur pemikiran ini ada kesepakatan bahwa pengetahuan empiris dari dunia adalah konstruksi manusia. Di luar yang disebutkan, pandangan ini dibagi oleh Kant dan pengikut-pengikutnya, yang melihat pengetahuan tentang dunia sebagai dibentuk oleh kategori mental bawaan pemikiran.

Scepticism tentang pengetahuan empiris mutlak telah berkembang menjadi tampilan yang dominan. Namun, sampai Lakatos (1962) yang cf ekstensi skeptisisme penuh untuk matematika tidak dibuat. Sejak itu, ia telah mendapat penerimaan parsial, sementara sisa kontroversial. konstruktivisme sosial adalah sebuah upaya untuk memperluas pendekatan skeptis Lakatos secara sistematis untuk suatu filsafat matematika. Namun, konstruktivisme sosial tidak berarti bentuk skeptisisme penuh, seperti keraguan Kartesius. Karena menerima keberadaan dunia fisik (sementara menyangkal pengetahuan yakin itu) dan menerima keberadaan bahasa dan kelompok sosial. Baik fisik dan dunia sosial memainkan peran penting dalam epistemologi konstruktivis sosial. Sebagai komentator di Wittgenstein mengatakan: "Keraguan mengandaikan penguasaan permainan bahasa." Kenny (1973, halaman 206) Konstruktivisme sosial adalah skeptis tentang kemungkinan terjadinya pengetahuan tertentu, terutama dalam matematika, tetapi tidak skeptis tentang pra-kondisi yang diperlukan untuk pengetahuan.

Masalah Bahasa Pribadi


Salah satu tantangan untuk pernyataan konstruktivis sosial pengetahuan subjektif adalah masalah ‘bahasa individu’. Jika konsep individu merupakan konstruksi pribadi, bagaimana mereka mampu berkomunikasi menggunakan bahasa bersama? Mengapa ahli matematika yang berbeda memahami hal yang sama dengan konsep atau proposisi, ketika makna pencurian secara pribadi unik? Mungkin tidak masing-masing memiliki bahasa individu, untuk merujuk ke makna nya individu sendiri?

Konstruktivisme sosial mengatasi masalah ini melalui negosiasi makna interpersonal untuk mencapai ‘fit’. Dukungan untuk posisi ini, jika tidak bentuk argumen yang tepat, adalah luas. Wittgenstein (1,953) pertama menjawab masalah, dengan alasan bahwa bahasa individu tidak bisa eksis. Sejumlah filsuf mengomentari karyanya, seperti Kenny (1973) dan Bloor (1983), mendukung penolakan terhadap bahasa individu, seperti yang dilakukan orang lain termasuk Ayer (1956) dan Quine (1960). Berkaitan dengan matematika, masalah bahasa individu juga dianggap dapat dipecahkan, misalnya dengan Tymoczko (1985) dan Lerman (1989), keduanya berdebat dari dekat posisi untuk konstruktivisme sosial.
Solusi dari masalah bahasa individu dengan konstruktivisme sosial mencerminkan pendapat substansial filosofis. Secara umum, dikatakan bahwa aturan bersama dan 'tarik objektif' dari penggunaan bahasa antar-pribadi membuat publik, konsisten dengan konstruktivisme sosial.

Dasar Linguistik dari Logika


Hal yang sama dapat dikatakan untuk logika dalam bahasa. Penggunaan istilah-istilah logika kunci seperti ‘tidak’, ‘dan’, ‘atau’, ‘berimplikasi’, ‘jika dan hanya jika, ‘memuat’, ‘terdapat’, ‘untuk semua’, ‘adalah, dan seterusnya, secara ketat mengikuti aturan-aturan linguistik. (Kita mengabaikan inkonsistensi variasi sehari-hari seperti ‘tidak-tidak = tidak, yang ditolak oleh matematika dan logika). Aturan-aturan ini tetap sebagaimana kebenaran pernyataan dasar seperti ‘Jika A, maka A atau B’, dan aturan-aturan inferensi seperti ‘A’ dan ‘A berimplikasi B’ bersama-sama berarti ‘B’. Aturan-aturan ini mencerminkan penggunaan istilah tersebut, dan maknanya (menurut Wittgenstein). Aturan dan kesepakatan logika yang mendukung lebih dari sekadar ‘kebenaran’ dari logika. Sebagaimana telah kita lihat, mereka juga mendukung hubungan logis, termasuk implikasi dan kontradiksi. Jadi penalaran, dan memang, seluruh dasar argumen rasional, berpijak pada aturan-aturan bersama bahasa.
Bentuk-bentuk yang lebih abstrak dan kuat dari logika yang digunakan dalam matematika, juga berada pada logika yang tertanam dalam penggunaan bahasa alamiah. Namun, aturan-aturan dan makna logika matematika menyatakan versi terformalkan dan penghalusan logika ini. Mereka memperbaiki sebuah eratan himpunan permainan bahasa yang tumpang tindih dengan logika bahasa alami.

Konvensionalisme


                Pandangan pengikut aliran konvensionalis menyebutkan bahwa pengetahuan matematika dan kebenaran didasarkan pada konvensi linguistik. Atau lebih jauh kebenaran logika dan matematika memiliki sifat analitis, benar karena ada hubungan nilai dari makna istilah yang digunakan. Bentuk moderat dari konvensionalisme seperti Quine (1936) atau Hempel (1945) menggunakan konvensi linguistik sebagai sumber kebenaran matematika dasar yang menjadi landasan konstruksi bangunan matematika. Bentuk konvensionalisme ini sedikit banyak sama dengan “ifthenisme” yang dijelaskan di Bab 1 sebagai posisi mempertahankan diri aliran pondasionis yang sudah kalah. Pandangan ini tetap saja absolutis dan tetap dapat dikenakan penolakan yang sama.

Filasafat matematika konvensionalis telah dikritik oleh penulis sebelumnya dengan dua alasan. Pertama, dikatakan disini bahwa aliran ini tidak banyak memberikan informasi. Terlepas dari penjelasan tentang sifat social matematika, konvensionalisme hanya memberikan sedikit informasi. Kedua, penolakan dari Quine. Penolakan Quine tidak memiliki alasan kuat karena penolakan itu tidak dapat dikenakan pada bahasa asli dan dikenakan pada peran pembatas pada konvensi umum. Sebaliknya dia benar dengan mengatakan bahwa kita tidak akan menemukan semua kebenaran matematika dan logika yang dikemukakan secara literal seperti aturan dan konvensi linguistik. Meskipun Quine mengkritik konvensionalisme terkait dengan logika, dia memandang aliran ini memiliki potensi menjadi filsafat matematika yang sedikit berbeda.

Platonisme



                Platonisme adalah pandangan bahwa objek matematika memiliki eksistensi objektif yang nyata dalam beberapa wilayah ideal. Pandangan ini berasal dari Plato dan dapat dilihat dalam tulisan penganut aliran Logis seperti Frege dan Rusell, dan juga Cantor, Bernays (1934), Hardy (1967) dan Godel (1964). Penganut aliran Platonis berpendapat bahwa objek dan struktur matematika memiliki eksistensi nyata yang terpisah dari kemanusiaan dan oleh karena itu matematika adalah proses untuk menemukan hubungan yang ada dibaliknya. Menurut penganut aliran Platonis pengetahuan matematika terdiri dari penjelasan objek-objek dan hubungan dengan struktur yang menghubungkan mereka.
                Platonisme dengan jelas memberikan pemecahan terhadap persoalan objektifitas matematika. Platonisme mencakup baik kebenarannya dan eksistensi objeknya sebagaimana juga kemandirian matematika yang memiliki hukum dan logika sendiri. Yang lebih menarik disini adalah adanya fakta bahwa filsafat yang tampaknya tidak masuk akal ini berhasil menciptakan ahli matematika seperti Cantor dan Godel.
Disamping hal yang menarik seperti itu, platonisme memiliki dua kelemahan penting. Pertama, aliran ini tidak mampu menawarkan penjelasan yang tepat terkait dengan bagaimana ahli matematika memperoleh akses ke dalam pengetahuan yang ada dalam wilayah platonic. Kedua, aliran ini tidak mampu memberikan deskripsi yang tepat untuk matematika baik secara  internal atau eksternal. Karena aliran ini tidak dapat memenuhi persyaratan di atas, platonisme ditolak sebagai filsafat matematika.

Tema Filsafat Bahasa

Wittgenstain bersama Russell dan para pengikutnya pada permulaannya tidak percaya bahwa bahasa siasa dapat dipakai sebagai ekspresi filsafat, dan mengharapkan adanya bahasa ideal seperti logika simbolis untuk kepentingan filsafat. Tema filsafat berikut ini tidak saja diajukan oleh Wittgenstein tetapi juga dari para filsuf lain yang mengajukan teorinya sekaitan dengan bahasa.

·         Permainan Bahasa (languange games)
Dalam karyanya yang kedua, Philosophical Investigation (1953) Wittgenstein menyadari bahwa bahasa tidak hanya dimaksudkan untuk mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan juga dalam fungsi lain seperti pertanyaan, perintah, pengumuman, dan lain sebagainya. Menarik sekali bahwa Wittgenstein menggunakan metafor languange games atau permainan bahasa. Dalam sosiolinguistik dikenal istilah speech event atau peristiwa tutur yang dimediasi oleh bahasa tertentu atau permainan bahasa yang sesuai dengan konteksnya.
·         Teori Gambaran (picture theory)
Lewat bahasa kita menggambarkan dunia. Proposisi-proposisi juga menggambarkan kenyataan. Pengertian sebuah proposisi terletak pada situasi yang digambarkan atau yang dihadirkan di dalamnya. Proposisi yang sederhana disebut proposisi elementer yang merupakan penjelasan suatu bentuk keberadaan atau peristiwa. Adapun proposisi sebagai sarana yang berupa ungkapan bahasa yang menghadirkan bentuk peristiwa (state of affairs) kepada kita, itulah yang dapat dikenai kualifikasi benar atau salah.
·         Proposisi dalam Struktur Logika Bahasa
Dunia adalah keseluruhan fakta, dan kebenaran dari dunia itu hanya dapat dinyatakan dalam bahasa. Suatu proposisi dapat dianalisis menjadi sebuah proposisi sebagai bagian terakhirnya yang dalam istilah Wittgenstein disebut ultimate constituent. Dengan kata lain setiap proposisi elementer hanya memiliki satu analisis final. Proposisi-proposisi itu mengungkapkan keberadaan suatu peristiwa atau state of affair, sedangkan keseluruhan proposisi itu adalah bahasa. Proposisi-proposisi dasar merupakan bangunan akhir dari bahasa karena jumlah keseluruhan proposisi itu adalah bahasa.
·         Kekeliruan Kategori

Segala sesuatu yang diindra oleh manusia dipesepsi lalu diolah untuk menjadi pengetahuan. Pengolahan ini dilakukan melalui proses kategorisasi. Dalam penelitia kualitatif misalnya, data observasi dan data wawancara dianaisis lewat kategorisasi. Kekeliruan pokok yang sering terjadi dalam filasafat adalah kekeliruan kategori, yakni pencampuradukan anggota yang berbeda sifatnya ke dalam satu kategori. Ryle lewat bukunya The Concept of Mind yang memperkenalkan konsep dari Rene Descartes dalam mendeskripsi manusia yang memiliki jiwa atau ruhdan juga memiliki tubuh atau raga.

FILSAFAT POLITIK

           Istilah filsafat berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu philo dan sophia. Dua kata ini mempunyai arti masing-masing. Philo berarti cinta dalam arti lebih luas atau umum yaitu keinginan, kehendak. Sedangkan Sophia mempunyai arti hikmah, kebijaksanaan, dan kebenaran. Jadi, secara etimologis, filsafat dapat diartikan sebagai cinta akan kebijaksanaan (love of wisdom).
            Filsafat sebagai bentuk proses berpikir yang sistematis dan radikal mempunyai objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Dan segala yang ada mencakup ada yang tampak (visible). Ada yang tampak (visible) di sini adalah dunia empiris artinya yang dapat dialami manusia, sedangkan ada yang tidak tampak adalah dunia ide-ide yang disebut dunia metafisik.
            Dalam perkembangan selanjutnya, objek material filsafat dibagi atas tiga bagian yaitu yang ada dalam kenyataan, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Dan ada pun objek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan objektif tentang yang ada, agar dapat mencapai hakikatnya, intinya.
            Di samping pengertian diatas, berfilsafat berarti bergulat dengan masalah-masalah dasar manusia dan membantu manusia untuk memecahkannya. Kenyataan seperti ini, tentu membawa filsafat pada pertanyaan-pertanyaan tentang tatanan masyarakat secara keseluruhan yang notabene adalah juga bidang politik.
            Bagi Plato, filsafat adalah pengetahuan tentang segalanya. Dan bagi Aritoteles, filsafat adalah menyelidiki sebab dan azas segala benda. Karena itu, Aristoteles menamakan filsafat dengan “teologia” atau “filsafat petama”. Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud pada proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Dalam negara seperti Indonesia, kekuasaan negara dibagi atas 3 (tiga) bagian. Pertama, Lembaga Eksekutif oleh Presiden. Kedua, Lembaga Legislatif oleh DPR. Ketiga, Lembaga Yudikatif oleh Mahkamah Agung. Ketiga-tiganya bersifat independen. Artinya tidak saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Politik juga sering dikaitkan dengan hal penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Yang menyelenggarakannya bukan rakyat, tetapi pemerintahan yang berkuasa. Hanya saja partisipasi rakyat sangat diharapkan. Tujuannya agar kerja pemerintahan dapat terlaksana dengan baik. Percuma suatu pemerintahan menyelenggarakan negara tanpa dukungan dari rakyat. Karena itu, kerja sama antara keduanya sangat diharapkan. Rakyat menyampaikan aspirasi kepada pemerintahan melalui wakil-wakilnya di Parlemen yang diwakili oleh DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) baik pusat maupun Daerah serta DPD (Dewan Perwakilan Daerah).

Selasa, 27 Desember 2016

FILOSOFI TOPENG CIREBON




          Sudah lama tari Topeng Cirebon mengundang tanda tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon, adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesia yang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”. Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Bagi mereka yang kurang peka dalam pengalaman seni, tarian ini akan membosankan. Tarian kok tidak banyak gerak? Bukankah hakikat tari itu memang gerak (tubuh)?
          Inilah teka-teki Tarian Panji dalam Topeng Cirebon. Bagaimana penduduk desa mampu menciptakan tarian semacam itu? Penduduk desa yang tersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dahulu memeliharanya. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status “pegawai” oleh Gubernur Jenderal Daendels, dan tidak diperkenankan memerintah secara otonom lagi, maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton tidak dimungkinkan lagi. Para abdi dalem Keraton terpaksa dibatasi sampai yang amat diperlukan sesuai dengan “gaji” yang diterima Raja dari Pemerintah Hindia Belanda.
          Begitulah penari-penari dan penabuh gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan. Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.
Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati “aslinya”. Namun metode ini tak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.
Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.
Siapakah Empu pencipta tarian ini? Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulis dikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.

Makna Lambang Banten




  • Kubah masjid, melambangkan kultur masyarakat yang agamis. Bintang bersudut lima, Ketuhanan Yang Maha Esa.
  • Menara Masjid Agung Banten, melambangkan semangat tinggi, yang berpedoman pada petunjuk Allah SWT.
  • Gapura Kaibon, melambangkan Daerah Provinsi Banten sebagai pintu gerbang peradaban dunia, perekonomian dan lalu lintas internasional menuju era globalisasi.
  • Padi berwarna kuning berjumlah 17 dan Kapas berwarna putih berjumlah 8 Tamgkai , 4 Kelopak Berwarna cokelta, 5 KUMTUM BUNGA melambangkan Provinsi Banten merupakan daerah agraris, cukup sandang pangan. 17-8-45 menunjukkan Proklamasi Republik Indonesia.
  • Gunung berwarna Hitam, melambangkan kekayaan alam dan menunjukkan dataran rendah serta pegunungan. Badak bercula satu, melambangkan masyarakat yang pantang menyerah dalam menegakkan kebenaran dan dilindungi oleh hukum.
  • Laut berwana biru, dengan gelombang putih berjumlah 17 melambangkan daerah maritim, kaya dengan potensi lautnya.
  • Gerigi berwana abu-abu berjumlah 10, menunjukkan orientasi semangat kerja pembangunan dan sektor industri.
  • Dua garis marka berwana putih, menunjukkan landasan pacu Bandara Soekarno Hatta, lampu bulatan kuning (beacon light) melambangkan pemacu semangat mencapai cita-cita.
  • Pita berwarna kuning, melambangkan ikaatan persatuan dan kesatuan masyarakat Banten.
  • Badak bercula satu, melambangkan fauna identitas banten yang menjadi warisan dunia.