Jumat, 30 Desember 2016

Tema Filsafat Bahasa

Wittgenstain bersama Russell dan para pengikutnya pada permulaannya tidak percaya bahwa bahasa siasa dapat dipakai sebagai ekspresi filsafat, dan mengharapkan adanya bahasa ideal seperti logika simbolis untuk kepentingan filsafat. Tema filsafat berikut ini tidak saja diajukan oleh Wittgenstein tetapi juga dari para filsuf lain yang mengajukan teorinya sekaitan dengan bahasa.

·         Permainan Bahasa (languange games)
Dalam karyanya yang kedua, Philosophical Investigation (1953) Wittgenstein menyadari bahwa bahasa tidak hanya dimaksudkan untuk mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan juga dalam fungsi lain seperti pertanyaan, perintah, pengumuman, dan lain sebagainya. Menarik sekali bahwa Wittgenstein menggunakan metafor languange games atau permainan bahasa. Dalam sosiolinguistik dikenal istilah speech event atau peristiwa tutur yang dimediasi oleh bahasa tertentu atau permainan bahasa yang sesuai dengan konteksnya.
·         Teori Gambaran (picture theory)
Lewat bahasa kita menggambarkan dunia. Proposisi-proposisi juga menggambarkan kenyataan. Pengertian sebuah proposisi terletak pada situasi yang digambarkan atau yang dihadirkan di dalamnya. Proposisi yang sederhana disebut proposisi elementer yang merupakan penjelasan suatu bentuk keberadaan atau peristiwa. Adapun proposisi sebagai sarana yang berupa ungkapan bahasa yang menghadirkan bentuk peristiwa (state of affairs) kepada kita, itulah yang dapat dikenai kualifikasi benar atau salah.
·         Proposisi dalam Struktur Logika Bahasa
Dunia adalah keseluruhan fakta, dan kebenaran dari dunia itu hanya dapat dinyatakan dalam bahasa. Suatu proposisi dapat dianalisis menjadi sebuah proposisi sebagai bagian terakhirnya yang dalam istilah Wittgenstein disebut ultimate constituent. Dengan kata lain setiap proposisi elementer hanya memiliki satu analisis final. Proposisi-proposisi itu mengungkapkan keberadaan suatu peristiwa atau state of affair, sedangkan keseluruhan proposisi itu adalah bahasa. Proposisi-proposisi dasar merupakan bangunan akhir dari bahasa karena jumlah keseluruhan proposisi itu adalah bahasa.
·         Kekeliruan Kategori

Segala sesuatu yang diindra oleh manusia dipesepsi lalu diolah untuk menjadi pengetahuan. Pengolahan ini dilakukan melalui proses kategorisasi. Dalam penelitia kualitatif misalnya, data observasi dan data wawancara dianaisis lewat kategorisasi. Kekeliruan pokok yang sering terjadi dalam filasafat adalah kekeliruan kategori, yakni pencampuradukan anggota yang berbeda sifatnya ke dalam satu kategori. Ryle lewat bukunya The Concept of Mind yang memperkenalkan konsep dari Rene Descartes dalam mendeskripsi manusia yang memiliki jiwa atau ruhdan juga memiliki tubuh atau raga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar