Wittgenstain bersama Russell dan para
pengikutnya pada permulaannya tidak percaya bahwa bahasa siasa dapat dipakai
sebagai ekspresi filsafat, dan mengharapkan adanya bahasa ideal seperti logika
simbolis untuk kepentingan filsafat. Tema filsafat berikut ini tidak saja
diajukan oleh Wittgenstein tetapi juga dari para filsuf lain yang mengajukan
teorinya sekaitan dengan bahasa.
·
Permainan
Bahasa (languange
games)
Dalam karyanya yang
kedua, Philosophical Investigation
(1953) Wittgenstein menyadari bahwa bahasa tidak hanya dimaksudkan untuk
mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan juga dalam fungsi
lain seperti pertanyaan, perintah, pengumuman, dan lain sebagainya. Menarik
sekali bahwa Wittgenstein menggunakan metafor languange games atau permainan bahasa. Dalam sosiolinguistik
dikenal istilah speech event atau
peristiwa tutur yang dimediasi oleh bahasa tertentu atau permainan bahasa yang
sesuai dengan konteksnya.
·
Teori
Gambaran (picture
theory)
Lewat bahasa kita
menggambarkan dunia. Proposisi-proposisi juga menggambarkan kenyataan.
Pengertian sebuah proposisi terletak pada situasi yang digambarkan atau yang
dihadirkan di dalamnya. Proposisi yang sederhana disebut proposisi elementer
yang merupakan penjelasan suatu bentuk keberadaan atau peristiwa. Adapun
proposisi sebagai sarana yang berupa ungkapan bahasa yang menghadirkan bentuk
peristiwa (state of affairs) kepada
kita, itulah yang dapat dikenai kualifikasi benar atau salah.
·
Proposisi
dalam Struktur Logika Bahasa
Dunia adalah
keseluruhan fakta, dan kebenaran dari dunia itu hanya dapat dinyatakan dalam
bahasa. Suatu proposisi dapat dianalisis menjadi sebuah proposisi sebagai
bagian terakhirnya yang dalam istilah Wittgenstein disebut ultimate constituent. Dengan kata lain setiap proposisi elementer
hanya memiliki satu analisis final. Proposisi-proposisi itu mengungkapkan
keberadaan suatu peristiwa atau state of
affair, sedangkan keseluruhan proposisi itu adalah bahasa.
Proposisi-proposisi dasar merupakan bangunan akhir dari bahasa karena jumlah
keseluruhan proposisi itu adalah bahasa.
·
Kekeliruan
Kategori
Segala sesuatu yang
diindra oleh manusia dipesepsi lalu diolah untuk menjadi pengetahuan.
Pengolahan ini dilakukan melalui proses kategorisasi. Dalam penelitia
kualitatif misalnya, data observasi dan data wawancara dianaisis lewat
kategorisasi. Kekeliruan pokok yang sering terjadi dalam filasafat adalah
kekeliruan kategori, yakni pencampuradukan anggota yang berbeda sifatnya ke
dalam satu kategori. Ryle lewat bukunya The
Concept of Mind yang memperkenalkan konsep dari Rene Descartes dalam
mendeskripsi manusia yang memiliki jiwa atau ruhdan juga memiliki tubuh atau
raga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar