1.
Pendidikan Konservatif
Istilah
konservatif berasal dari kata dalam bahasa Latin conservare, yang dapat
diartikan “melestarikan, menjaga, memelihara, mengamalkan”.Karena berbagai
budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan berbeda-beda, maka kaum konservatif
di berbagai kebudayaan mempunyai tujuan yang berbeda-beda pula. Hal yang sama
dikemukakan oleh Farida (2009) yang menyatakan bahwa konservatif berasal dari
bahasa latin com servare, yang artinya "melindungi dari kerusakan/kerugian".
Jadi orang yang dinamakan "kolot/konservatif" adalah orang yang tidak
mau melakukan perubahan karena kuatir mempunyai dampak yang tidak baik terhadap
dirinya maupun lingkungan. Dengan demikian konservatisme adalah sebuah
filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional yang harus
dipertahankan.
Sebagian
pihak konservatif berusaha melestarikan status quo, sementara yang lainnya
berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang lampau, the status quo
ante. Menurut Giroux dan Aronowitz (1985), konservatif dibangun berdasarkan
keyakinan bahwa masyarakat, dalam hal ini peserta didik, pada dasarnya tidak
merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan social. Dengan pandangan
seperti itu, para pendidik yang menggunakan paradigma konservatif menganggap
peserta didik tidak memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk melakukan perubahan
atas kondisi mereka.
A. Paradigma
Pendidikan Konservatif
Pandangan pendidikan konservatif tentang hakikat
manusia menurut filsafat pendidikan konsevatif, manusia hanya menduduki posisi
sebagai objek pasif. Manusia dipandang sebagai objek dari kebijakan Tuhan
sehingga dia tidak memiliki daya upaya untuk merubah nasib hidupnya. Apa yang
telah dirasakan apa yang telah dijalani, dan apa yang menjadi miliknya maka
itulah yag terbaik bagi mereka, inilah karakter aliran filsafat perenialis itu.
Manusia konservatif tidak mampu membaca relasi-relasi sosial yang mempengaruhi
nasib hidupnya, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dia tidak bisa
membantah kondisi sosial atau nasibnya disebabkan keyakinan yang fatalistik. Dalam
diri manusia konservatif meyakini bahwa nasib, perbuatan baik maupun buruk,
adalah ketetapan (takdir) dari Tuhan.
Paradigma koservatif dalam pandangan Islam mengenal
hakikat manusia sebagai objek statis tanpa kebebasan berekspresi, berkreasi dan
berdial etika dengan beragam persoalan hidupnya. Orientasi pendidikan
konservatif cenderung untuk melestarikan norma-norma kemapanan, hal inipun
senafas dengan aliran esensialisme. Aplikasi nyata konsep manusia sebagai objek
statis bisa dilihat dalam praktek-praktek pembelajaran yang tertuang dalam
metode-metode seperti menghafal (muhafadzah), membaca (qiraah), dan menerjemah
(tarjamah), mendengar (istima’) dan sebagainya.Manusia diposisikan sebagai
objek statis dan wajib taat kepada guru. Dalam pandangan filsafat konsevatif
potensi-potensi konflik (kontardiksi) dalam relitas sosial selalu di hindari.
Pendidikan konservatif selalu mengutamakan harmoni hubungan antar relasi-relasi,
sehingga hidup ini selalu dijalani dengan sabar dan tanpa neko-neko atau
bermacam-macam, pasrah dan tunduk pada norma-norma mapan.
Dengan demikian pendidikan bagi kaum konservatif
diibaratkan sebagai proses menerima, bersabar atau menanggung nasib dengan
penuh keyakinan bahwa mereka yakin akan mendapatkan kebahagiaan kelak di
akhirat. Paradigma pendidikan konservatif anti perubahan dan tidak mengarah
pada progresif. Tidak ada prinsip persaingan hidup, apalagi harus merubah nasib
sesuai dengan kehendaknya sendiri.
B. Tujuan
Pendidikan Konservatif
Bagi kaum konservatif, tujuan atau sasaran
pendidikan adalah sebagai sarana pelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan
sosial serta tradisi-tradisi.Berciri "orientasi ke masa kini", para
pendidik konservatif sangat menghargai masa silam, namun terutama memusatkan
perhatiannya pada kegunaan dan pola-pola belajar mengajar didalam konteks
sosial yang ada sekarang ini. Ia ingin mempromosikan perkembangan masyarakat
kontemporer yang seutuhnya dengan cara memastikan terjadinya perubahan yang
perlahan-lahan dan bersifat organis yang sesuai dengan keperluan-keperluan
legal intitusional suatu kemapanan. Selain itu konservatisme juga bertujuan
untuk mendorong pemapanan dan penghargaan bagi lembaga-lembaga, tradisi-tradisi
dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu, termasuk rasa hormat
yang tinggi. Dengan demikian, kaum konservatif menganggap bahwa meneruskan
informasi dan keterampilan yang sesuai, supaya berhasil dalam tatanan soial
yang ada, adalah merupakan tujuan lembaga pendidikannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar